Tiga sosok berdiri di tengah hamparan salju yang tak berujung. Angin dingin menggulung, mengibarkan ujung jubah mereka. Lala menatap sekeliling dengan mata berbinar, penuh semangat namun terselip kegugupan. Sebaliknya, Leena berdiri tegap dengan kepercayaan diri yang mantap, sementara tatapan Lynx menyapu horizon bersalju dengan pandangan tajam.

"Bagaimana, Lynx? Apa kau belum menemukan benda yang kau cari?" tanya Leena, suaranya mantap meski bulir es mengelupas di udara.

Lynx menghela napas panjang, embusan napasnya membentuk kabut tipis. "Aku yakin seharusnya benda itu ada di sekitar sini. Aku sudah mencoba memanggilnya, tapi masih belum ada respon."

Leena mengerutkan kening, keraguan terbersit di matanya. "Kau yakin senjata itu masih ada? Bukankah sudah ratusan tahun berlalu?"

Mendengar percakapan itu, Lala segera melangkah maju. Meski udara menggigit, berkat teknik pernapasan yang diajarkan Lynx, hawa dingin tidak lagi menjadi masalah baginya. "Sebenarnya, benda apa yang kau cari?" tanyanya penasaran, kedua matanya berbinar ingin tahu.

Lynx memandang kedua gadis itu, mata hitamnya memantulkan ketenangan. "Kalian bisa lihat sendiri, baju tempur yang kugunakan untuk menyamarkan kekuatanku berhasil menipu orang lain. Namun saat bertarung dengan leluhur Sekte Api Langit, aku menyadari sesuatu hal. Mereka akan berpikir kekuatan dari baju tempur ini terlalu kuat untuk mereka pahami karena meski terlihat seperti immortal, namun dapat mengalahkan para immortal dengan mudah. Hal ini dapat membuat keributan di dunia ini. Aku butuh senjata yang mampu menyamarkan energi asliku, agar kekuatan yang kumiliki terlihat disebabkan oleh berbagai benda, bukan hanya satu."

Lala mengerutkan kening. "Kenapa tidak menggunakan formasi ilusi saja? Bukankah kau bisa membuat pedang dan benda lain terlihat kuat?"

Leena mengangguk setuju, meski dahinya berkerut. "Formasi ilusi? Apa itu sama dengan teknik penyamaran yang kau gunakan di pakaianmu?"

Lynx tersenyum tipis, seulas seringai terukir di wajahnya. "Menggunakan teknik manipulasi pada pakaian masih bisa menipu mereka karena aku bisa menguncinya agar hanya aku yang menggunakan. Tapi senjata berbeda. Jika mereka memegang senjataku dan memeriksanya, ilusi itu akan terkuak. Aku butuh senjata sejati, yang benar-benar memancarkan kekuatan besar. Senjata itu ada di sini."

Leena menyilangkan tangan di dada, merenung sejenak sebelum menatap Lynx dengan penuh keyakinan. "Yang kamu katakan sangat benar. Aku menyetujuinya. Aku ingat, serangan leluhur dengan mudah kamu hancurkan, itu bisa menimbulkan kehebohan. Jadi, kita harus mencari senjata tersebut sesuai rencanamu."

Lynx mengangguk mantap. "Benar. Kordinat tempat penyimpanan senjata itu seharusnya berada di sekitar sini. Karena jaraknya terlalu jauh, harus menggunakan portal teleportasi untuk mencapainya. Tapi jarak pastinya dari tempat kita menuju kesini, aku sendiri tak bisa memastikan."

Lynx menoleh ke sekitar dan mencoba mengingat ciri-ciri tempat leluhur menyimpan senjatanya. Senjata itu disimpan untuk digunakan leluhur Xiao Tang menemukan penerusnya kelak, dan juga sebagai ujian. Leluhur Xiao Tang sendiri sudah tidak memerlukan pedang karena dengan kekuatannya, dia mampu membuat pedang dengan kekuatan Qi spiritualnya.

Lynx mengangkat tangannya, memusatkan kesadaran spiritualnya untuk meraba energi di sekitar. Pikirannya menjelajahi hamparan salju yang luas, menembus pepohonan beku, hingga menyusuri gunung-gunung es yang terjal. Aliran energi spiritual di udara mengabarkan keberadaan kehidupan, dan Lynx dapat merasakan denyut samar-samar yang mengisyaratkan adanya sebuah desa beberapa kilometer dari tempat mereka berdiri.

Lynx mengerutkan kening. "Sepertinya lokasi ini tidak sama dengan ingatan yang ku punya. Ada sebuah desa tak jauh dari sini. Kita kesana sekarang."

Lala dan Leena mengikuti lari Lynx, menembus salju yang dingin menggigit. Sepanjang perjalanan, Lynx merenungkan kemungkinan penyebab kesalahan koordinat teleportasinya. Dia segera menyadari bahwa dunia telah berubah sejak daratan terpisah menjadi beberapa benua. Perubahan energi spiritual mungkin telah menggeser letak beberapa tempat rahasia.

"Kalian sungguh mengesalkan. Tidak bisakah kalian berhenti melupakan kekuatanku hanya ranah forging qi tingkat lima." kata Lala dengan kesal.

Leena segera berhenti dan mendekati Lala yang sedang kesal."Maafkan aku Lala, aku tidak sengaja karena mengikuti langkah Lynx yang terlalu cepat. Sebagai gantinya, aku akan menghilangkan kekesalan hatimu."

Lynx yang menyadari Leena dan Lala tidak ada lagi di belakangnya segera berhenti. Dia baru menyadari jika melakukan kesalahan dengan berlari cepat. Meski dia sudah mengurangi kecepatannya, namun kondisi jalan yang bersalju tetap menyulitkan Lala yang memiliki ranah rendah.

Lynx segera berlari dan melihat kedua gadis tersebut tengah berdiri diam menunggu."Leena, Lala, maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkan kalian."

Leena segera mendekat dan memeluk Lynx."Tidak ada sayang, kami tahu kamu sedang terburu-buru."

Leena lalu menampilkan wajah imut malu-malu, membuat Lynx menjadi salah tingkah.

"Sayang, dingin begini, membuatku ingin melakukan sesuatu, tetapi aku malu. Bisakah kamu memejamkan matamu?" bisik Leena lembut dan berbisik.

Detak jantung Lynx berdebar kencang. Sudah lama dia merindukan kemesraan bersama Leena, didalam hatinya dia tertawa,"bahkan Leena bisa malu bersamaku sekarang. Aku sudah merindukan ciuman hangat darinya."

Lynx segera memejamkan matanya, dan sudah tidak sabar membayangkan mendapat ciuman mesra dari Leena. Meski didepannya ada Lala, sebagai gadis modern, Lala sudah terbiasa melihat kemesraan di depan umum, meskipun dia juga merasa agak iri.

Melihat Lynx memejamkan matanya, Leena menganggukkan kepalanya dan melompat mundur. Dengan segera bola salju raksasa yang sudah dipersiapkan Leena sebelumnya di cincin penyimpanannya keluar diatas kepala Lynx dan langsung di jatuhkan menimpa tubuhnya.

Lala dan Leena tertawa terpingkal-pingkal melihat kejadian tersebut. Mereka lalu berlari menuju arah kemana Lynx sebelumnya berlari.

Sementara Lynx yang masih menunggu ciuman dari Leena masih terpana kaget, tidak menduga akan mendapatkan kejutan seperti itu dari gadis yang dicintainya.

"Leena, Lala... Awas kalian ya..."

Lynx segera keluar dan mengejar Leena dan Lala dengan cepat. Tidak lama, Lynx sudah berada di belakang mereka dan mendengar suara tawa mereka karena teringat kejadian lucu membayangkan ekspresi Lynx.

Lynx segera tersadar, suasana ini yang sebenarnya dia rindukan. Suara tawa, penuh canda. Sejak di dunia ini, mereka selalu merasa tegang dan seakan masalah tidak ada hentinya datang.

Lynx menambah kecepatan berlarinya sehingga dia kini berada jauh di depan mereka. Saat melihat Leena dan Lala mendekat, Lynx langsung melempari mereka dengan bola salju tanpa menggunakan kekuatan.

"Perang salju..." teriaknya.

Leena dan Lala yang tidak menduga serangan dari Lynx, segera menghindar. Namun saat mereka menyadari Lynx melempari mereka tanpa menggunakan kekuatan, hanya seperti bermain, segera mengikuti. Mereka bermain lempar salju hingga merasa puas.

***

Setelah puas bermain, mereka melanjutkan perjalanan, mereka tiba di sebuah desa kecil yang terpencil. Rumah-rumah kayu sederhana tampak berbaris rapi, dengan atap yang berat oleh salju. Wajah-wajah penduduk desa terlihat letih dan penuh kewaspadaan. Mata mereka memandang curiga pada tiga pendatang asing yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan.

Seorang pria tua berambut putih berdiri di depan kelompok penduduk desa dengan tongkat kayu yang kasar. “Siapa kalian dan apa tujuan kalian di Xuelu?" suaranya serak dan penuh ketegasan.

Lynx memberi salam hormat. “Kami hanya pelancong yang terdampar. Bisa beri tahu kami di mana kami berada?"

Pria tua itu mengernyit sebelum akhirnya menjawab, “Ini Desa Xuelu. Kenapa kalian bisa berada di tempat ini?"

Leena dan Lala mengernyit, mereka belum pernah mendengar nama desa Xuelu.

"Maafkan kami karena kami tersesat. Tapi ini masuk wilayah kerajaan mana?" Tanya Lala. Sebagai pengurus organisasi mata-mata, tentunya dia memahami banyak wilayah kerajaan Qingyuan

"Kalian ada di wilayah Kerajaan Fenglong, bagaimana bisa kalian tidak mengetahui berada di kerajaan mana?" tanya pria tua tersebut dengan pandangan semakin curiga.

"Kerajaan Fenglong? Jadi ini Benua Beihan. Bagaimana bisa Lynx membawa kami ketempat sejauh ini. Apakah dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika kerajaan Fenglong mengetahui keberadaan kita disini." Batin Lala dengan kesal.

Melihat mata Leena dan Lala yang membelalak kaget. Lynx langsung berbisik bertanya,"Ada apa? Apa kalian tahu mengenai tempat ini?" tanyanya dengan lugu.

